Tampilkan postingan dengan label Pemujaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemujaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Maret 2021

Pemujaan Kepada Dewi Durgha

Untuk memuja di Pura Dalem, masih dalam Kahyangan Tiga :

Om, Catur diwjà mahasakti

Catur asrame Bhattàri

Siwa jagatpati dewi

Durgà sarira dewi

Artinya: YaTuhan, saktiMu berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Ciwa, Raja Semesta Alam, dalam wujud Dewi Durga. Ya,Catur Dewi, hamba menyembah ke bawah kakiMu, bebaskan hamba dari segala bencana.

Om Catur Dewa Mahasakti,

Catur Asrama Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi,

Durga Sarira Dewi

TANTRAYANA

TANTRAYANA
Oleh : Ida Pedanda Gede Pemaron Mandhara

Kajian Sejarah
Beberapa orang Indolog beranggapan bahwa ada hubungan antara Konsep-Dewi (Mother-Goddes) yang bukti-buktinya terdapat dalam suatu zeal di Lembah Sindhu (sekarang ada di Pakistan) dalam kurun waktu sebelum zaman Weda, dengan Konsep Mahanirwana Tantra, Konsep ini berpangkal pada percakapan Dewi Parwati dengan Sang Hyang Sada-Siwa yang membentangkan turunnya Dewi Durga ke Bumi pada zaman Kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku. Dalam beberapa sumber Dewi Durga juga disebut Candi. Dan sinilah pada mulanya muncul istilah “candi” (candikaghra) untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja dewa dan arwah yang telah suci, Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku disebut Kalimosada (Kali-maha-usada,) yang artinya Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab dalam zaman kekacauan moral, pikiran dan perilaku; sedangkan misi Beliau turun ke bumi disebut Kalika-Dharma.

Dan konsep Dewi itu muncullah Saktiisme yaitu suatu paham yang mengkhususkan pemujaan kepada Sakti yang merupakan suatu kekuatan daripada Dewa. Di dalam konsep monodualis bahwa Nirguna Brahma dalam Dewa bersifat pasif yang juga disebut Dewi. Dari sini muncullah istilah Dewa dan Dewi atau Bhatara-Bhatari yang oleh pikiran manusia dipandang sebagai manifestasi tersendiri dan juga dipersonifikasikan dalam imajinasi manusia secara tersendiri pula. Para pemuja sakti ini disebut Sakta.

Dalam perkembangannya lebih lanjut daripada Saktiisme ini, maka muncullah Tantriisme yaitu suatu paham yang memuja Sakti secara ekstrim. Para penganut paham ini disebut Tantrayana. Istilah “Tantrayana” berasal dari akar kata “tan” yang artinya ‘memaparkan kesaktian “atau” kekuatan daripada Dewi itu”. Di India penganut Tantriisme lebih banyak terdapat di India-Selatan daripada di India Utara. Kitab-kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali, kurang lebih ada 64 macam antara lain Mahanirwana Tantra, Kulanarwana Tantra Bidhana, Yoginihrdaya Tantra, Tantrasara dan lain sebagainya. Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet dan Indonesia. Dari Trantriisme muncullah suatu paham Bhairawa yang artinya “hebat”. Paham Bhairawa secara khusus memulai kehebatan daripada Sakti dengan cara-cara yang spesifik. Bhairawa inipun berkembang sampai ke Cina, Tibet dan Indonesia.

Di Indonesia masuknya Saktiisme, Tantriisme dan Bhairawa dimulai sejak abad ke-7 melalui kerajaan Sriwijaya di Sumatera sebagaimana diberikan persaksian oleh prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India Selatan dan Tibet. Dari peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga macam Bhairawa yaitu : Bhairawa Heruka yang terdapat di Padang Lawas-Sumatera Barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut oleh Kertanegara, raja Singosari - Jawa Timur serta oleh Adhityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit dan Bhairawa Bhima di Bali yang arcanya kini ada di pura Kebo Edan Bedulu Gianyar. Aliran-aliran Bhairawa ini mempunyai tendensi politik guna mendapatkan kharisma besar yang diperlukan dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan negara (baca kerajaan). Maka dari itulah Bhairawa ini diikuti oleh raja-raja dan petinggi pemerintahan serta tokoh-tokoh masyarakat saja pada zaman dahulu.

Pada zaman dahulu dimana tekriologi belum maju, penjagaan keämanan negara dan pengendalian pemerintahan didasarkan atas kharisma raja dan petinggi pemerintahan Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengftnbangi kekuatan Kaisar Kubilai Khan di Cina yang menganut Bhairawa Heruka. Kebo Parud, patih Singosari menganut Bhairawa Bhima mengimbangin raja Bali yang kharismanya tinggi. Adhityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kharisma raja-raja Pagaruyungan di Sumatera Barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Di Bali, perkembangan daripada Konsepsi-Dewi itu nyata sekali berupa pemujaan terhadap Dewi atau Bhatari lebih menonjol daripada pemujaan terhadap Dewa atau Brahma misalnya:
pemujaan terhadap Dewi Saraswati, Dewi Durga, Dewi Sri, Dewi Gangga, Dewi Danuh dan lain sehagainya. Di dalam sistem kekerahatan di Bali, banyak sekali terdapat Pura Ibu yang mempunyai konotasi terhadap Konsep Dewi.

Perkembangan Saktiisme di Bali juga menjurus kepada dua aliran mistik yaitu Pangiwa dan Panengen. Dari Pangiwa muncullah pengetahuan tentang leyak, Desti, Tëluh, Taranjana dan Wegig, sedangkan dari Panengen muncullah pengetahuan tentang Kawisesan dan Pragolan. Pangiwa berasal dari sistem Niwerti dalam doktrin Bhairawa. Selain itu beberapa formula dalam Atwarwa Weda juga mengilhami mistik ini. Adapun kitab-kitab Tantrayana di Indonesia antara lain adalah Tantrayana di Indonesia antara lain adalah : Tantrawajra dhatusubuti, Candra Bhairawa dan Semara Tantra. Di Bali banyak orang bernama Tantra dan ada suatu karya sastra populer di Bali bernama Tantri yang memaparkan berbagai episode yang pada mulanya mengungkapkan suatu aspek Mithura dari Pancatattwa suatu doktrin Tantrayana.

Doktrin Tantrayana
Ajaran Tantrayana dibentangkan dalam kitab-kitab Tantra-Sastra yang juga disebut kitab-kitab agama yang banyaknya kurang lebih 64 buah. Pada dasarnya Konsepsi-Ketuhanan (Theisme) dalam Tantrayana adalah Monoisme yaitu pemujaan terhadap satu Tuhan yang disebut Brahman. Konsep ini dijelaskan dalam Mahanirwana Tantra (12) dengan suatu kalimat berbunyi “Om Saccidekam Brahman” (Om, hanya satu kesadaran tertinggi yang disebut Brahman), Konsep Monisme ini muncul dari pandangan Advaita dalam Wedanta Darsanam. Fokus ajaran Tantrayana adalah wujud suatu keseimbangan dalam kehidupan di dunia ini. Ditekankannya bahwa keseimbangan kesejahteraan material dengan kesejahteraan rohani adalah sangat penting untuk terwujudny jagadhita, karena jagadhita ini memotivasi munculnya ketenangan batin yang merupakan suatu syarat mutlak untuk mencapai ketenangan jiwa (bhukti) yang selanjutnya akan menuju moksa (mukti), untuk terwujudnya keseimbangan itu, Tantrayana mengajarkan dua sistem yang ditempuh yaitu : wahya dan adhyatmika (sekala dan niskala). Pernyataan produk kedua sistem ini akan dapat mewujudkan jagadhita dalam kehidupan. Dalam konteks sistem ini, maka konsep Monisme itu dikembangkan menjadi konsep Monodualis yaitu : satu itu dijadikan dua dan dua itu disatukan seperti yang telah dipaparkan di depan.

Upacara
Tantrayana menekankan betapa pentingnya upacara agama (ritual) dilakukan, karena peran upacara agama merupakan suatu aktivitas untuk memujudkan keseimbangan hidup di dunia ini. Di dalam kitab Mahanirwana Tantra dibentangkan prinsip-prinsip upacara Panca-Yajna yang perlu dilaksanakan. Disebutkan pula materi atau sarana-sarana yang digunakan upakara termasuk penggunaan binatang korban dalam kaitannya dengan caru. Tantrayana secara rinci menjelaskan tata-cara melakukan yajna serta kepada siapa yajna itu dipersembahkan. Dengan memperhatikan isi kitab-kitab Tantra Sastra yang memuat ajaran Tantrayana dapat dipahami, bahwa bentuk-bentuk upakara dan upacara yajna yang diselenggarakan di Bali, secara jelas terlihat adanya pengaruh dari Tantrayana, di samping juga mendasakan kepada berbagai Sastragama Hindu sebagai penjabaran dan Catur Weda, serta disemarakkan oleh produk sosial budaya daerah yang berasal dari alam pikiran pra-Hindu di Indonesia.

Tapa dan Brata
Pengendalian din melalui tapa dan brata sangat ditekankan dalam Tantrayana. Istilah tapa berasal dan akar kata tap artinya panas. Bertapa artinya memusatkan pikiran (cita) kepada Hyang Widhi dalam manifestasi tertentu, Di dalam melaksanakan pemusatan pikiran itu badan akan merasa panas. Menurut Yoga-Kundalini, bahwa panas yang muncul pada diri kita ketika memusatkan pikiran itu akan membakar kekotoran (mala) yang melekat pada Sthulasarira, suksmasarira dan antahkarana (malatraya).

Brata adalah suatu disiplin batin yang memuat dua hal yaitu : keharusan dan larangan; apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tantrayana mengajarkan suatu brata yang patut dilakukan yaitu : Panca tattwa yang terdiri dari:

1). Matsya : memakan ikan;
2). Mamsa : memakan daging
3). Madhya : meminum minuman yang menghangatkan badan;
4). Maithuna : melakukan hubungan seks yang benar.
5). Mudra : melakukan sikap tangan yang mengandung kekuatan gaib.

Sesungguhnya Pancatattwa ini adalah rasional dan alamiah serta mengandung filosofi yang dalam. Arthur Avalon mengkaji hal ini secara panjang lebar dan mendalam dalam bukunya Sakti and Sakta. Pada prinsipnya Pancatattwa ini merupakan suatu filosofi hubungan bhuwana agung dan bhuwana alit yang mengandung nilai selaras serasi dan seimbang. Kendatipun demikian, namun penerapan Pancatattwa ini sering menyimpang dari filosofinya, dikarenakan oleh kelemahan manusia menghadapi pengaruh sadripu sehingga seringkali Pancatattwa itu diartikan sebagai Mahakamapancikam yaitu pemenuhan lima macam nafsu yang amat besar.

Puja-Mantra
Mahanirwana Tantra yang dijadikan dasar pegangan oleh Tantrayana sangat karya dengan Puja dan Mantra, Mantra-mantra seperi : Mula Mantra, Bija-Mantra, Kutha Mantra, Astra Mantra, dan Kawaca Mantra serta berbagai Wijaksara yang digunakan oleh Sulinggih di Bali, menurut basil penelitian berasal dari Mahanirwana Tantra. Demikian pula Stuti dan Stawa yang digunakan di Bali, sebagian berasal dan Puja Mantra Tantrayana. Mudra dan Siwa-upakarana yang yang digunakan oleh Sulinggih di Bali, berasal dari Mahanirwana Tantra. Selain mengambil sumber dari Mahanirwana Tantra, bahwa Puja-Parikrama di Bali mengambil sumber dari Catur Weda dan dari berbagai Upanisad.

Mistik Hindu selain dimunculkan oleh konsep Tantrayana, namun juga dimunculkan oleh Atharwa-Weda. Sebagaimana dimaklumi, bahwa Atharwa-Weda memuat formula-formula untuk menguasai kekuatan gaib dalam rangka mengamankan pelaksanaan upacara agama. Dari sini dapatlah dipahami mengapa agama Hindu menggunakan Wijaksara (magic sylable). Mudra dan Nyasa (lambang-lamhang gaib) dalam konteks upacara agama. Di Bali, munculnya upacara yang bersifat khusus dengan menggunakan upakara yang khusus pula dan spesifik seperti : Caru Lebur Sangsa, Caru Nwagempang, Pangelukatan Dyus Kinurungan, Labaan Babahi, dan lain sebagainya, dapat dipandang berasal dari kedua konsep tersebut tadi.

Wasana Kata
Demikianlah sekilas pikiran mengenai Tantrayana dalam konteks kehidupan agama Hindu di Indonesia terutama di Bali. Dengan pengungkapan yang sederhana inii, kiranya akan dapat menggugah perhatian untuk mendalami agama Hindu dengan mengkajinya dari berbagai aspek meliputi filosofi, etika, ritual, sosial-budaya dan ekonomi. WHD No. 434 April 2003.
Makna Pecanangan

MAKNA “PECANANGAN”
Oleh : Miswanto, Denpasar

Biasanya kita sering melihat para sulinggih, pemangku, ataupun orang-orang tua di Bali mempunyai kebiasaan “nginang” atau dalam bahasa halusnya disebut “mecanangan” (biasanya untuk kalangan sulinggih), suatu kegiatan makan sirih/base yang sudah dicampur dengan buah pinang/buah, kapur dan gambir. Pecanangan (bahan-bahan untuk mecanangan) itu biasanya menjadi “rayunan” untuk seorang sulinggih. Bahkan ada yang mengatakan bahwa itu adalah kebutuhan utama.

Kebiasaan tersebut (baca nginang, yang juga merupakan Bahasa Jawa dan mempunyai arti yang sama) juga sering dilakukan oleh para orang tua di Jawa pada jaman dahulu.
Berikut kita kupas satu per satu tentang esensi yang terkandung dalam pecanangan tersebut yang sebagaimana disebutkan di muka bahwa pecanangan itu terdiri dari sirih, buah pinang, kapur dan gambir.

Sirih
Sirih dalam Bahasa Jawa disebut sebagal “suruh”, yang kalau dikaji lebih lanjut merupakan gabungan dan suku kata “su” dan “wruh”, Su, ini adalah kata Jawa Kuno yang berarti baik, sungguh, benar (I Gde Semadi Astra, dkk, 1984). Sedangkan wruh adalah kata Jawa Kuno juga yang berarti tahu atau pengetahuan (kawruh).
Dengan demikian suruh dapat diartikan sebagai pengetahuan yang baik dan benar atau utama, yang mempunyai maksud bahwa kita sebagai manusia yang dikaruniai akal budi harus mempunyai pengetahuan yang baik dan benar sebagai bekal di masa tua nanti karena hanya pengetahuanlah teman terbaik dalam hidup ini sebagaimana terungkap dalam Kekawin
Niti Sastra 11.5 yang berbunyi:
“Norana mitra man glewihna waraguna maruhur”. (Tiada teman sebaik pengetahuan yang utama)
Namun demikian, untuk mencapai pengetahuan yang utama itu biasartya pahit rasanya sebagaimana rasa sirih waktu dimakan dan kalau tidak tawar kita bisa muntah-muntah. Akan tetapi kita juga harus berpikir akan hasil dan pengetahuan tersebut yang bisa membuat kita mencapai kebahagiaan rohani. Ingat peribahasa:
“Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.

Buah Pinang
Buah pinang dalam Bahasa Jawa disebut sebagai “jambe” yang erat kaitannya dnegan “jampi” yang dalam arti luasnya adalah mantra (biasanya jampi-jampi yang berupa mantra ini diberikan oleh seorang dukun kepada pasiennya). Sedangkan mantra ini adalah kata Sanskerta yang berasal dan kata “man” yang berarti pikiran dan “trana” yang berarti membebaskan. Di sini dimaksudkan bahwa kita harus mampu membebaskan pikiran kita dan segala macam bentuk indriya/nafsu sebagai disebutkan dalarn Sarasamuccaya 80 yang berbunyi:
“A pan ikan manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subha asubha karma, matangnyan ikang manah juga prihen kahartanya sekareng”. (Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumber dari segala macam indriya atau nafsu yang menggerakkan baik buruknya perbuatan, oleh karena itu pikiranlah yang patut diupayakan pengendaliannya).

Kapur
Kapur sebenarnya berasal dari kata Sanskerta atau Jawa Kuno “karpura” yang artinya barang yang berwarna putih, dan batu putih (Prof. Dr. M.M. Sharma, 1985 : 56). Dan kapur sendiri yang biasa digunakan untuk membersihkn lendir pada ikan tertentu sebelum dimasak. Dalam hal ini dimaksudkan agar seminimal mungkin kita bisa menjadi orang yang berfikir, berkata, dan bertindak “suci” walaupun kita tidak bisa menjadi orang suci seperti putihnya warna kapur tersebut.

Selain itu kita juga perlu memusnahkan buah dan segala perbuatan kita yaitu dengan tidak berpikir akan hasil dan segala kerja yang kita lakukan sebagaimana kapur menghilangkan lendir pada ikan tersebut dan selalu mempersembahkan apa yang kita lakukan hanya kepadaNya.

Hal ini dapat kita lihat pada Bhagavad Gita V. 10 yang berbunyi:
Brahmanya adhaya ktirmani sanjam tyaktva karoti yah, Lipyate na sa papena padma patram ivambhasa. (Mereka yang menipersembahkan semua kerjanya, kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa tak terjamah oleh dosa papa, laksana daun teratai oleh air).

Selain itu kita juga diharapkan untuk tidak terpengaruh oleh hasil kerja kita, baik yang berupa pujian ataupun hinaan karena dan semula memang kita tidak mempunyai motif apapun. Mengenai hal tersebut masih dalam Kitab yang sama dijelaskan dalam Adhaya V sloka 20 yang berbunyi: Na prahrs yet pri yam prapya nodvijet prapya capriyam’. Sthira buddhir asammudho brahma vid Brahmam sthitah (Dia yang tiada bergirang menerima suka dan juga tidak bersedih menerima duka, tetap dalam kebijaksanaan, teguh iman, mengetahui Brahman, bersatu dalam Brahman).

Ketiga bahan tersebut (sirih, buah pinang dan kapur) yang mempunyai makna agar kita berpengetahuan suci, melepaskan indriya dan berbuat suci dengan menghilangkan buah dan keija selaras dengan apa yang tersurat dalam Lontar Vrhaspati Tattva yang berbunyi:
“Telu prakara nikang sadhana, anung gawayakena de sang mahyun ing kale pasan, jnanabhyudreka, ngaranya ikang wruh ring tattwa kabeh, indriya yoga inarga ngaranya ikang tan jenek ring wisaya, trsnadoksaya ngaranya ikang humilangaken phalaning subha asubha karma”.
(Ada tiga cara yang harus dilakukan oleh Sang Sadhu untuk mencapai kalepasan yaitu :Jnanabhyudreka yang berarti tahu semua tattwa, Indriya yoga marga yang berarti tidak menikmati indriya/nafsu, Trsnadoksaya, yaitu memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk).

Dari uraian tersebut, maka sangatlah tepat jika ketiga bahan tersebut, dijadikan bahan untuk “porosan” yang selain sebagai simbol esensi ilahi (Brahma, Visnu dan Siva), juga mempunyai arti sumbu, di mana pada lampu minyak misalnya, sumbu tersebut bisa membawa minyak naik yang kemudian hilang dan menjadi sesuatu yang terang. Seperti itulah ketiga cara itu (Jnanabhyudreka, Indriya yoga marga, dan Trsnadoksaya) akan membawa manusia menuju pencerahan dan kelepasan (moksa).

Gambir
Gambir dalam Bahasa Jawa berarti senang, bahagia, ataupun gembira yang kemudian dikhususkan lagi menjadi “gambiraning ati” yang artinya kebahagiaan hati atau batin. Jadi setelah melaksanakan ketiga hal seperti yang disebutkan diatas niscaya kita akan mendapatkan kebahagiaan rohani yang tidak kita dapatkan pada materi yang kita miliki. Itulah beberapa makna yang dapat kita ambil dari pecanangan seorang sulinggih. Tentunya tidak akan sempurna jika kita hanya memahami makna tersebut tanpa mempraktekkan





Mitos dan Pemujaan Bathari Durga: India, Jawa dan Bali By Ni Wayan Pasek Ariati, PhD


 


Latar Belakang Penelitian

Dalam makalah ini, saya berusaha untuk mengkaji mitos serta pemujaan terhadap Bhatari Durga mulai dari asal mulanya di India lalu perkembangannya di Indonesia khususnya di Jawa dan Bali. Pertama-tama sebelum membahas lebih jauh tentang mitos dan pemujaan kepada Bhatari Durga, saya ingin menyampaikan bagaimana saya sampai tertarik untuk mengkaji tentang Bhatari Durga. Rasa tertarik saya untuk mengetahui lebih jauh tentang Bhatari Durga karena pada waktu saya bekerja di Jaipur, India Utara di tahun 2001-2003, saya merasa kaget karena ada beberapa toko bernama Durga, grup music bernama Durga, dan juga beberapa perempuan bernama Durga. Kenapa? Itulah pertanyaan yang muncul dari benak saya ketika itu. Sedangkan di Bali, saya selalu menganggap Bhatari Durga sebagai sosok yang menyeramkan dan bersemayam di setra Ganda Mayu, Pura Dalem Mrajapati. Itulah pengetahuan tentang Bhatari Durga yang saya dapatkan dari cerita lisan kakek saya almarhum yang merupakan Pemangku Dalem di desa saya.

Melihat persepsi umat Hindu di India dan penganut Hindu di Indonesia dan di Bali pada khususnya, maka saya berusaha mengetahui lebih banyak tentang bagaimana Bhatari Durga di Bali bisa digambarkan sebagai sosok Bhatari yang menyeramkan, jauh berbeda dari penggambaran aslinya di India. Maka dari itu, saya melamar bea-siswa untuk mengadakan penelitian lebih mendalam tentang perkembangan citra/image dari Bhatari Durga di India dan Bali. Tetapi atas saran Prof. Hildred Geertz, Princeton Univerity, USA; Prof. Hariani Santiko, UI dan Pembimbing saya Dr. Christine Doran, CDU (Charles Darwin University), Darwin, Australia; dimana ketiga professor tersebut menyarankan kepada saya supaya membahas Bhatari Durga di Jawa untuk lebih sempurna, maka saya menyetujui saran beliau bertiga. Jadi, judul akhir disertasi saya adalah “The Journey of the Goddess Durga: India, Java and Bali”, yang belum terbit karena saya perlu waktu dan biaya untuk mengedit disertasi tersebut supaya menjadi sebuah buku yang lebih manarik untuk dibaca.

Upacara Pekeling: Jatra dan Yatra

Sebelum mengadakan penelitian, saya mulai dengan mengadakan upacara Jatra danYatra yaitu upacara “mepekeling” di Pura Dalem di kampong di mana kakek saya sebagai pemangku. Kakek sebenarnya takut dan kwatir kalau saya melakukan penelitian tentang Bhatari Durga karena beliau bilang,”Ida Bhatari nak tenget, sing dadi cuah-cauh nyambatang ragane. Kudiang awake, men ragane duka?”. Nah karena itu, kakek menyarankan saya untuk mengadakan pekeling ke pura-pura sebelum mengadakan penelitian lebih jauh.

Saya mulai upacara Jatra dan Yatra dengan berpuasa selama tiga hari dan sembahyang di Pura Dalem di kampong dimana kakek adalah pemangkunya, lalu saya lanjutkan dengan pergi ke Pura Dalem Ped di Nusa Penida dan bermalam di sana selama satu malam. Tirta Yatra saya ke Dalem Ped diikuti oleh beberapa pemangku dan balian. Tujuannya yaitu untuk mohon ijin dan pengampunan karena selama penelitian, saya akan banyak menyebut nama Ida Bhatari Durga yang sangat disakralkan di Bali.

Hanya setelah melakukan Jatra dan Yatra, akhirnya saya dengan rasa lega melalukan wawancara serta penelitian di beberapa tempat di India seperti Jaipur, Calcutta, Varanasi, Rishi Kesh, Delhi, dan di daerah pegunungan di India dimana penyembahan terhadap Bhatari Durga dilakukan dengan pengorbanan kambing di hadapan arca Durga, Kali, Badrakali. Tetapi kalau di Bali, saya mengatakan kepada orang-orang bahwa saya mengadakan penelitian tentang “perbadingan” antara Dewi di India dan Bali, hal tersebut saya lakukan karena pernah suatu saat ada yang bertanya tentang penelitian saya dimana saya jawab dengan jujur yaitu tentang Bhatari Durga di India dan Bali, lalu teman tersebut bilang, “jadi kamu sudah pinter black-magic, udah bisa jadi apa aja?”. “Wah gawat…nanti aku dikira sakti kalau itu pikiran orang terhadap Bhatari Durga, lebih baik cari jalan aman”, itulah pembelaan yang muncul dalam benak saya. Lalu saya jawab, ”kamu ngawur sekali, okay nanti deh kalau disertasiku dah kelar, kamu baca ya!”, menghardik dia yang hanya tersenyum tidak puas dengan jawaban saya.

Methode Penelitian

Selama di India, saya banyak mengadakan penelitian dengan mengunjungi museum, kuil-kuil (mandir) yang diperuntukan pemujaan kepada Bhatari Durga, mengikuti upacara Durga Puja di Calcutta dan Varanasi, wawancara dengan pemuja Durga yang disebut Tantrik, serta mengujungi para Sadu di goa-goa yang merupakan pemuja Durga yang fanatic. Selama penelitian di India, saya bertemu dengan beberapa pemuja Durga yang sangat taat. Salah seorang pemuja Durga di Culcatta berkata kepada saya,

”Dewi Durga adalah Dewi yang paling pemurah karena apapun yang kita inginkan akan segera dikabulkan, sedangkan Dewi Saraswati sangat pelit kita harus lama sekali belajar untuk menjadi pintar. Dewi Laksmi juga begitu pelit, kita sulit untuk menjadi kaya walau bagaimanapun kerasnya usaha kita”.

Dalam kesempatan yang sama, saya juga bertemu dan wawancara dengan “tantric” istilah ini mengacu pada orang yang ahli dalam ilmu black-magic karena para tantric punya “magic-eyes” dimana mereka bisa mencelakai musuh-musuhnya dengan hanya memandang dengan “magic-eyes”nya. Maka dari itu, anak-anak kecil di India memakai “cilak” hitam dan mobil-mobil berisi sesajen berupa cabai, jeruk lemon dan bawang merah yang katanya bisa menolak kesaktian dari “magic-eyes”. Seorang tantric yang saya wawancarai bersifat sangat rahasia, dia hanya bicara dengan orang yang dipercaya. Dalam wawancara tersebut tantric tersebut berkata bahwa dia tidak pernah menyakiti orang secara langsung, tetapi kekuatan yang dianugrahi oleh “Gorakh Nath” (Siwa dalam bentuk menyeramkan) bisa mencelakai orang yang bermaksud jahat padanya. Saya juga bertemu dengan seorang perempuan yang namanya Durga. Saya tanya ibu itu tentang namanya. Dia bilang, “Dewi Durga sangat cantik dan maha pengasih, jadi nama itu bagus untuk perempuan”. Lalu saya katakan padanya,”Di Bali, kami tidak berani menyebut nama Durga blak-blakan, biasanya kita membuat nama yang menyamarkan nama Durga, seperti Ratu Ayu, Ida Bhatari Dalem atau Ratu Mas”. Ibu Durga itu semakin penasaran dengan perkembangan Dewi Durga di Bali. Akhirnya saya diundang untuk memberikan presentasi tentang Bhatari Durga di New Delhi India pada tahun 2008 sebelum melanjutkan presentasi di Berlin, Jerman dalam tahun yang sama.

Sedangkan di Indonesia, saya mengadakan penelitian di Jawa terlebih dulu karena pemujaan Bhatari Durga bermula dari Jawa lalu bergeser menuju Bali yang mana sampai sekarang tetap dilaksanakan walau dengan cara yang berbeda dibanding dengan pemujaan di jaman lampau. Di Indonesia, saya juga mewawancarai banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat, seperti pemangku, pedanda, masyarakat awam, para akademisi serta para balian.

Mitos dan Pemujaan Bhatari Durga: di India

Pada mulanya Bhatari Durga digambarkan sebagai Dewi Perang yang cantik jelita dengan jumlah tangan mulai dari empat sampai dua belas dimana setiap tangannya memegang senjata yang sangat ampuh dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Menurut (Mookerjee, 1988:8 dan Agravala, 1963), sesuai dengan apa yang dipaparkan dalam sloka suci Devi Mahatmya, sebuah sisipan penting dari Markandeya Purana (digubah pada abad ke- 6thMasehi), diceritakanlah lahirnya Bathari Durga sebagai berikut:

Pada jaman dulu, sorga loka diserang oleh rakasa bersama pasukannya yang dipimpin oleh Mahisasura yaitu raksasa berkepala kerbau. Raksasa tersebut sangat sakti dan tak terkalahkan oleh pasukan para dewa di sorga. Pada saat penyerangan tersebut, Dewa Siwa sedang bertapa di Gunung Kailasa, puncak tertinggi dari pegunungan Himalaya. Raksasa Mahisasura menduduki sorga loka sehingga para dewa morat-marit berlarian kemana-mana untuk menyelamatkan diri. Akhirnya para dewa memutuskan untuk pergi ke puncak Kailasa memberitahukan Dewa Siwa tentang keadaan di sorga loka. Dewa Siwa yang sedang meditasi menjadi sangat murka mendengar kabar kalau sorga telah diobrak-abrik oleh pasukan raksasa raja Mahisasura dan tahta sorga telah diduduki oleh raja Mahisasura. Saking murkanya maka dari kedua kening Dewa Siwa muncullah pancaran cahaya yang luar biasa dahsyatnya. Demikian juga dari kedua kening para dewa lainnya muncul cahaya yang menyatu dengan cahaya Dewa Siwa. Dari kumpulan cahaya para dewa tersebut muncullah sesosok Dewi yang luar biasa cantiknya bertangan delapan yang membuat para dewa sangat senang melihat kelahiran dewi tersebut. Karena para dewa tahu bahwa musuh mereka tidak dapat dikalahkan oleh para dewa, maka para dewa yakin bahwa Mahisasura akan tunduk dan terkalahkan oleh sosok perempuan cantik. Maka sepakatlah para dewa untuk mengirimkan Dewi yang cantik ke medan laga.

Karena Sang Dewi akan dikirim ke medan perang maka dari itu para dewa perlu menganugrahi Dewi itu senjata-senjata sakti supaya bisa mengalahkan Mahaisasura. Lalu, Dewa Siwa menganugrahkan Tri Sula, Wisnu menganugrahkan Cakra, Brahma menganugrahkan Gada, Indra menganugrahkan Bajra dan juga dewa-dewa lainnya, sehingga kedelapan tangan Dewi tersebut berisi senjata mahasakti. Dewi yang baru tercipta dari cahaya para dewa akhirnya diberi nama Dewi Durga yang berarti “Seorang Dewi yang Sulit Dikalahkan”. Untuk melengkapi sarana perang Dewi Durga dianugrahi Singa oleh Dewa Siwa dalam penjelmaannya sebagai Bhanaspati Raja (Raja Hutan) sebagai wahananya dalam perang melawan pasukan raksasa Mahisasura. Setelah Dewi Durga dibekali mantra-mantra kesaktian dari para dewa dan siap dengan peralatan perangnya maka pergilah Dewi Durga dengan wahana Singanya ke medan laga sendirian menantang Mahisasura untuk berperang. Dengan suara nyaring Dewi Durga memanggil Mahisasura dan menantangnya untuk berperang.

“Wahai Raja Mahisasura, keluarlah ke medan laga, lawanlah aku bertempur!”, tantang Dewi Durga.

Mendengar tantangan seorang perempuan dan melihat betapa cantik perempuan yang menantangnya, maka Mahisasura pertamanya tidak mau melawan dan diapun berkata kepada Dewi Durga,

”O Sang Dewi yang maha cantik, kenapa harus berperang melawanku, apakah tidak lebih baik kalau kita bertempur di tempat tidur saja?”

Tertawalah Dewi Durga mendengar tawaran raja raksasa sambil menjawab,

“hahaha…..hanya lelaki yang bisa mengalahkan aku di medan perang berhak bertempur denganku di tempat tidur”.

Murkalah Mahisasura atas jawaban Dewi Durga yang merendahkan kesaktian Mahisasura. Rasa kejantanannya sangat tertantang untuk segera menundukan dan mengalahkan Dewi Durga supaya bisa mengajaknya ke tempat tidur. Akhirnya mereka berperang mengadu kesaktian. Dalam adu kesaktian, Mahisasura mengubah wujudnya beberapa kali tetapi tetap dia selalu bisa dikenali dan dilumpuhkan oleh Dewi Durga. Terakhir kali, Mahisasura berubah menjadi kerbau yang ganas. Singkat cerita, Dewi Durga dapat mengalahkan Mahisasura dengan memenggal kepala Mahisasura yang berupa kerbau tersebut.

Dengan kalahnya Mahisasura, maka para dewa memuji-muji Dewi Durga dengan mantra-mantra pujian. Sejak saat itu, Dewi Durga diberi nama Durga Mahisasuramardini, yang berarti “Dewi Durga yang telah mengalahkan raksasa Mahisasura”.

Begitulah cerita singkat tentang lahirnya Bhatari Durga di India. Di India, Durga selalu digambarkan sebagai Dewi yang cantik dan selalu dipuja demi kemenangan. Ada mandir-mandir khusus dipakai tempat memuja Durga, ada hari suci yang khusus untuk memuja Dewi Durga yang disebut Durga Puja, yang biasanya jatuh pada bulan Oktober. Pada saat Durga Puja, biasanya perayaannya dilakukan dengan membuat pandal yang berisi arca Tri Sakti: Maha Saraswati, Maha Durga, Maha Laksmi. Di antara Tri Sakti; Dewi Saraswati, Dewi Laksmi dan Dewi Durga, maka Dewi Durga lah yang paling banyak dipuja di India. Biasanya di dalam pandal ini, Dewi Durga digambarkan sebagai Dewi Durga Mahisasuramardani dimana arcanya memperlihatkan kekalahan raksasa Mahisasura. Saya sendiri sempat menyaksikan bagaimana perayaan Durga Puja dilaksanakan di Culcatta dan Varanasi.

Berikutnya, saya akan membahas tentang bagaimana pemujaan serta perkembangan Bhatari Durga di Nusantara.

Perkembangan Mitos dan Pemujaan Bhatari Durga: di Jawa dan Bali

Di Nusantara, arca Bhatari Durga dalam bentuk Durga Mahisasuramardini telah ditemukan di beberapa candi di Jawa Barat pada abad ke-6th Masehi (Hariani Santiko, 1987), dan arca Durga Mahisasuramardini banyak ditemukan di Jawa Tengah terutama pada candi-candi Hindu beraliran Siwa, seperti misalnya di Candi Prambanan, dimana arca Durga Mahisasuramardini ditemukan di bagian utara candi Siwa. Pemujaan terhadap Bhatari Durga biasanya dilakukan oleh para raja untuk memohon kemenangan dalam perang. Tetapi Durga juga dipuja oleh kaum Brahmana, Wesya dan Sudra untuk mendapatkan perlindungan dari musuh. Setelah pindahnya kekuatan kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada pertengahan abad ke-9 Masehi, pemujaan terhadap Durga juga dilakukan oleh para raja di Jawa Timur seperti Kediri, Singosari dan Majapahit. Peninggalan dari arca Durga di Jawa Timur ditemukan di beberapa candi Hindu seperti Candi Singosari, Candi Sambisari, Candi Gedong Songo, dimana arca Durga masih punya ciri-ciri yang sama dengan arca di Jawa Barat, Jawa Tengah sedangkan arca Durga yang ditemukan di Jawa Timur telah mulai mengalami perubahan yang radikal yaitu arca Durga digambarkan sebagai Dewi Durga Mahisasuramardini bertaring (Hariani Santiko, 1987).

Penggambaran Dewi Durga yang lebih ektrim ditemukan di relief Candi Penataran dan Candi Tigawangi dimana Durga telah digambarkan sebagai Dewi Raksasa dengan tubuh tinggi, rambut acak-acakan, bertaring dan mata melotot.

Di Bali, berdasarkan prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu (kira-kira abad ke 11 Masehi) banyak menyebutkan pemujaan terhadap Durga, sedangkan beberapa arca yang kita temukan di Bali pada jaman Anak Wungsu masih menggambarkan ciri-ciri khas Durga Mahisasuramardini tetapi telah ada akulturasi dengan budaya local. Misalnya arca Durga Mahisasuramardini yang terdapat di Pura Dalem Kutri, Buruan, Gianyar, Durga digambarkan memiliki delapan tangan yang semua memegang senjata tetapi salah satu tangan Durga memegang keris yaitu senjata khas Bali dan absennya gambaran Mahisasura dalam Durga Kutri. Di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar juga ditemukan beberapa arca Durga Mahisasuramardini, tetapi oleh penduduk lokal arca tersebut dinamakan Ratu Pasek, sama halnya dengan arca Durga Mahisasuramardini di Candi Prambanan, orang awam menyebutnya Loro Jongrang.

Pada saat ini, kalau kita berbicara tentang Bhatari Durga, yang ada dalam benak kita orang kebanyakan adalah Durga yang disamakan dengan sosok Rangda, yaitu suatu image yang menyeramkan dengan sosok tinggi besar, rambut panjang awut-awutan, mata melotot, lidah menjulur dan bersemayan di kuburan Ganda Mayu. Demikianlah image yang diceritakan oleh generasi pendahulu seperti kakek saya dan orang-orang di kampong saya. Dan gambaran serupa tentang Dewi Durga juga dapat kita buktikan dalam literature dan visual seperti cerita Sudamala, Andha Bhuwana dan Calon Arang sedangkan bukti secara visual bisa kita lihat di relief candi-candi di Jawa seperti Candi Tigawangi dan Candi Sukuh dan di beberapa pura Dalem di Bali.

Berdasarkan bukti tertulis dan bukti visual, saya membuat spekulasi tentang faktor-faktor yang mungkin menyebabkan perubahan/perkembangan radikal Durga dari sosok Dewi Perang yang cantik jelita menjadi Dewi Raksasi yang menyeramkan setelah pindahnya kekuatan kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (abad ke-10 sampai 15 Masehi) dan di Bali sampai saat ini.

Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

· Sosok Bhatari Durga sebagai dewi perang mungkin dianggap terlalu ektrim dan terlalu provokatif oleh masyarakat yang menganut system patriarki terutama di Jawa dan Bali walaupun sebenarnya ada tokoh Sri Kandi dianggap anomaly dan diterima dalam masyarakat.

Pencitraan Bhatari Durga dalam beberapa literature (Ghatotkacasraya) dan prasasti (Petak dan Trilokyapuri) yang digambarkan sangat senang menerima persembahan sesajen berupa daging mentah dan darah, pencitraan seperti ini ditemukan dalam prasasti bagian kutukan terhadap orang yang berani melanggar aturan-aturan yang diterapkan dalam prasasti untuk menjaga keamanan wilayah sima atau tanah milik komunal seperti tanah pengemponpura di Bali.

Perkembangan lebih lanjut yang terjadi pada Dewi Durga berdasarkan karya sastra Calon Arang adalah Dewi Durga disamakan atau dikelirukan dengan pemuja setianya yaitu Rangda ing Dirah. Hal ini, menurut pemikiran saya adalah adanya kerentanan status janda (rangda) bagi perempuan di dunia. Kalau janda itu cantik tentu akan banyak mendapat godaan dari laki-laki dan juga akan banyak dicemburui oleh kaum perempuan.

Takdir Seorang Dewi: diciptakan, dipuja, dituduh dan dikutuk

Dalam makalah singkat ini, saya hanya ingin mengkaji dan membandingkan pemujaan dan pencitraan Durga di India dan Bali. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa perubahan radikal pada Dewi Durga telah terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Pada prinsipnya pemujaan terhadap Durga tetap dipertahankan yaitu untuk mengalahkan para musuh, tetapi musuh jaman sekarang tidaklah sama dengan musuh di jaman lampau. Misalnya pada jaman kerajaan di masa lampau seperti yang diceritakan dalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular (1365-1389 Masehi) pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari jaman Majapahit, raja-raja yang dibantu oleh para pandita (Siwa-Buda) menyembah Durga sebagai Dewi Perang supaya bisa memenangkan pertandingan. Dalam cerita Sutasoma dipaparkan bahwa baik Raja Sutasoma (Buda) maupun Raja Purosada (Siwa) menyembah Durga sebelum ke medan perang. Durga sebagai dewi yang maha pengasih dan penyayang, tentu memberikan anugrah kepada siapapun yang memujanya dengan khidmat (Zoetmulder 1974: 331).

Di samping dipuja-puja untuk menang perang, Dewi Durga juga dituduh berselingkuh dengan Dewa Brahma seperti yang dipaparkan dalam versi kidung Sudamala (digubah antara 1365-1406 Masehi) pada jaman pemerintahan raja-raja di Jawa Timur. Sedangkan kalau di Bali perselingkuhan Dewi Durga (Uma) dipaparkan dalam cerita Rare Angon, dimana Dewi Uma dituduh berselingkuh dengan seorang pengembala sapi (jelmaan Dewa Siwa sendiri). Sepenggal cerita perselingkuhan Dewi Durga dalam versi kidung Sudamalaadalah sebagai berikut:

Diceritakan bahwa Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Asihprana dan Sang Hyang Wisesa mengadakan pertemuan di istana Ida Bhatara Guru, rajanya para dewa. Mereka membicarakan kelakuan yang salah Dewi Sri Uma, istri Bhatara Guru, dimana Dewi Uma telah dituduh berselingkuh dengan Dewa Brahma. Bhatara Guru sangat murka mendengar kabar perselingkuhan istrinya, serta merta Bhatara Guru mengutuk istrinya yang cantik menjadi Durga dengan sosok raksasi yang menyeramkan. Uma yang terkutuk digambarkan sebagai sosok raksasi berubuh besar tinggi, rambut awut-awutan, mata bagaikan matahari kembar, mulutnya bagaikan goa dengan taring tajam dan panjang, lobang hidungnya bagaikan sumur kembar, dan seluruh tubuhnya penuh dengan bentolan dan loreng.

Di dalam kidung Sudamala, tidak hanya dikutuk untuk menjelma menjadi dewi raksasi, Dewi Durga juga diturunkan dari kahyangan dan bersemayam di setra ganda mayu dan memangsa mayat untuk kelangsungan hidupnya. Dewi Durga raksasi hanya akan bisa kembali berubah wujud menjadi dewi yang cantik apabila telah disupat atau diruwat oleh Dewa Siwa sendiri melalui Sahadewa anak bungsu dari Panca Pandawa. Untuk bisa tetap bertahan hidup, Dewi Durga mempunyai banyak sisya yang menyebabkan penyakit makhluk hidup lalu mati. Dewi Durga akan menganugrahi kesaktian kepada siapapun yang mau mempelajari ‘black-magic’ supaya pemujanya menjadi sakti sehingga lebih banyak santapannya apabila banyak orang yang meninggal akibat ulah dari para sisyanya. Tetapi Bhatari Durga juga berpesan kepada pemujanya agar tidak membunuh orang-orang tanpa dosa, “tan wenang kita amati wong tanpa dosa”

Itulah kisah dari terkutuknya Dewi Uma yang cantik menjadi Durga yang menyeramkan versi Indonesia. Ketika saya bertanya pada orang-orang di India mengenai ceritaSudamala tersebut, baik sarjana maupun orang awam tidak mengetahui cerita tentang perselingkuhan istri Dewa Siwa dengan Dewa Brahma yang akhirnya kena kutuk. CeritaSudamala adalah hasil pemikirin pengawi atau sastrawan Indonesia yang telah disisipi ide dan norma-norma, tradisi local untuk memposisikan perempuan di dunia patriarki. Perempuan cantik adalah sosok yang dipuja-puja dan dalam waktu yang bersamaan juga sangat rentan untuk terkena gossip maka terjadilah perubahan citra dari perempuan pujaan menjadi perempuan terkutuk. Citra perempuan akan kembali cantik apabila telah diruwat (diperistri) oleh laki-laki.

Kesimpulan

Mitos dan Pemujaan terhadap Dewi Durga mengalami perjalanan dan proses yang panjang dan berliku mulai dari asal mulanya di India lalu menyebrang samudra luas sampai ke Nusantara, khususnya Jawa dan Bali. Berdasarkan sejarah perkembangan Dewi Durga, bisa kita ambil kesimpulan sebagai berikut:

Pada dasarnya tujuan pemujaan terhadap Dewi Durga adalah sama seperti tujuan utama penciptaan Dewi Durga yaitu untuk menang perang melawan musuh; dimana menurut kepercayaan Hindu musuh itu banyak macamnya. Bagi saya musuh yang paling sulit dikalahkan adalah musuh dalam diri kita sendiri yang berupa sad ripu (kama: nafsu, lobha: tamak, krodha: kemarahan, moha: kebingungan, mada: mabuk, matsarya: dengki, iri hati).

Betapapun garangnya laki-laki, biasanya dia bisa ditaklukkan oleh perempuan cantik.

Sangatlah susah menjadi perempuan cantik apalagi punya prestasi, akan banyak gossip dan tuduhan miring terhadap perempuan tersebut.

Perempuan akan bisa kembali cantik apabila diruwat oleh laki-laki.